Senin, 22 September 2025

KHUTBAH JUMAT: TAUHID DAN AKHLAK SOLUSI ABADI DARI ZAMAN JAHILIYAH HINGGA ERA MODERN

 

Tauhid dan Akhlak: Solusi Abadi dari Zaman Jahiliyah hingga Era Modern

Dr. H. Ahmad Abrar Rangkuti, M.A.

Khutbah Jumat, 5 September 2025 M/12 Rabiul Awal 1447 H

Masjid Istiqamah Pagar Merbau

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pertama-tama marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu besar, salah satunya adalah nikmat diutusnya Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Beberapa hari yang akan datang kita akan memperingati kelahiran beliau, sebuah peristiwa yang menjadi titik balik sejarah umat manusia.

Hadirin sekalian,
Sebelum Nabi Muhammad lahir, bangsa Arab bukanlah bangsa yang terbelakang sepenuhnya. Mereka sebenarnya sudah memiliki peradaban. Dalam bidang ekonomi, orang Arab sangat pandai berdagang. Kafilah-kafilah dagang Quraisy rutin bepergian ke Syam di musim panas dan ke Yaman di musim dingin. Barang-barang dagangan dari timur dan barat bertemu di Makkah, sehingga kota itu menjadi pusat perdagangan internasional.

Dalam bidang budaya, mereka terkenal dengan syair-syair yang indah dan bahasa yang fasih. Puisi mereka digantungkan di dinding Ka’bah sebagai bentuk penghargaan tertinggi. Mereka bangga dengan kemampuan bahasa dan sastra.

Dalam bidang sosial-politik, Makkah telah menjadi pusat pertemuan bangsa-bangsa. Orang Arab sangat menghormati tamu, menjunjung tinggi keberanian, dan memiliki sistem kabilah yang kokoh. Dengan kata lain, mereka memiliki unsur-unsur peradaban yang maju.

Namun, jamaah yang dirahmati Allah, di balik semua itu tersembunyi kegelapan yang dalam. Akidah mereka rusak karena menyembah ratusan berhala di sekitar Ka’bah. Praktik kezaliman merajalela: orang kaya menindas orang miskin, para perempuan dipandang hina, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Perbudakan terjadi di mana-mana, tidak ada rasa keadilan, dan peperangan antarsuku berlangsung tanpa henti hanya karena masalah sepele.

Maka, jelaslah bahwa mereka memiliki peradaban lahiriah, tetapi kehilangan cahaya ruhani. Maju dalam materi, tetapi runtuh dalam akhlak dan akidah. Inilah yang disebut zaman jahiliyah.

Karena itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad membawa misi yang sangat besar bagi umat manusia. Misi ini bukan sekadar menyampaikan ajaran baru, tetapi juga menawarkan solusi mendasar atas problematika yang melanda masyarakat kala itu. Solusi pertama yang beliau bawa adalah tauhid. Dengan tauhid, beliau mengajarkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tauhid menjadi fondasi utama karena ia membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan—baik perbudakan terhadap sesama manusia, terhadap hawa nafsu, maupun terhadap berhala yang tidak berdaya. Inilah revolusi besar yang mengangkat martabat manusia agar hidup merdeka dan terhormat di hadapan Allah .

Namun, membangun peradaban tidak cukup hanya dengan meluruskan keyakinan. Karena itu, Rasulullah membawa solusi kedua, yaitu akhlak. Beliau menegaskan dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Dengan akhlak, manusia diarahkan agar memiliki perilaku yang baik, menghargai orang lain, dan hidup berdampingan secara harmonis. Jika tauhid memperbaiki hubungan manusia dengan Allah , maka akhlak memperbaiki hubungan antar sesama manusia. Kedua hal ini saling melengkapi: tauhid menata batin, akhlak menata lahir; tauhid menjadi akar, akhlak menjadi buah.

Dengan demikian, jelas bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad bukanlah sesuatu yang parsial atau terpisah-pisah. Tauhid dan akhlak adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dalam membentuk pribadi muslim sejati.

Jamaah yang berbahagia,
Allah sendiri menegaskan kemuliaan akhlak Nabi dalam firman-Nya:
﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾

(QS. Al-Qalam: 4).
Beliau adalah sosok yang jujur, amanah, penyayang, dan adil. Maka tidak heran, dakwah beliau mampu mengubah bangsa Arab dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya peradaban.

Jamaah yang berbahagia,
Jika kita perhatikan, kondisi hari ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zaman jahiliyah dulu, hanya berbeda wajahnya. Dulu orang jahiliyah menyembah berhala, sekarang banyak manusia yang “menyembah” harta, jabatan, dan popularitas. Dulu jahiliyah ditandai dengan perang antar suku, sekarang kita melihat pertikaian dan perpecahan hanya karena beda pilihan politik atau perbedaan pendapat di media sosial.

Kemajuan teknologi memang luar biasa, tetapi di sisi lain kita menyaksikan krisis akhlak. Korupsi merajalela di berbagai tingkatan. Kejujuran semakin mahal, bahkan kadang dianggap kelemahan. Media sosial penuh dengan fitnah, ujaran kebencian, dan budaya saling merendahkan. Banyak orang yang semakin jauh dari Allah: salat ditinggalkan, zikir diabaikan, hidup sibuk mengejar dunia tanpa arah.

Inilah yang bisa kita sebut sebagai “jahiliyah gaya baru”—jahiliyah modern yang tidak lagi berbentuk patung-patung di Ka’bah, tetapi berupa hawa nafsu, keserakahan, dan penyakit hati.

Oleh karena itu, solusi yang dibawa Nabi Muhammad tetap relevan sepanjang zaman. Kembali kepada tauhid yang murni—menyembah Allah semata, bukan dunia. Menghidupkan akhlak mulia—jujur, amanah, penyayang, dan adil.

Bayangkan, jika setiap muslim benar-benar berpegang pada kejujuran, tidak ada lagi praktik korupsi. Jika setiap muslim amanah, tidak ada lagi pengkhianatan dan kecurangan. Jika setiap muslim penyayang, tidak akan ada lagi kekerasan dalam rumah tangga, perundungan di sekolah, atau kebencian di media sosial.

Maka masyarakat kita akan kembali menjadi umat terbaik: umat yang dirindukan dunia, bukan ditakuti karena keburukan akhlaknya.

Rasulullah bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian (kemewahan).”
(HR. Bukhari no. 2887)

  • Kata ‘abd (hamba) biasanya digunakan untuk Allah , tetapi di sini digunakan untuk benda duniawi seperti dinar (emas), dirham (perak), dan khamishah (pakaian indah).
  • Artinya, orang yang hatinya terikat pada harta dan kemewahan hingga hidupnya dikendalikan oleh itu semua, maka ia seperti menjadi “budak” harta.

Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan:

“Maksudnya adalah orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, dan ia tidak puas kecuali dengan memperolehnya. Seakan-akan ia menyembah dunia itu, karena ia rela, marah, memberi, dan menolak semuanya demi dunia tersebut.”

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Inilah makna sejati memperingati Maulid Nabi. Bukan sekadar mengenang kelahiran beliau, tetapi meneladani ajarannya dalam kehidupan nyata. Semoga kita semua mampu menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam ibadah, dalam keluarga, dalam pekerjaan, dan dalam kehidupan bermasyarakat.  

Marilah kita jadikan peringatan Maulid Nabi ini sebagai momentum memperbaiki diri. Rasulullah adalah suri teladan terbaik. Allah berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ﴾

(QS. Al-Ahzab: 21).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah adalah teladan dalam perkataan, perbuatan, kesabaran, jihad, ibadah, dan akhlak mulia. Setiap orang yang berharap bertemu Allah, takut akan azab-Nya, dan mengingat-Nya, wajib menjadikan Rasulullah sebagai panutan.

Karena itu, meneladani Nabi harus kita mulai dari hal-hal yang sederhana namun nyata.

  • Dalam keluarga, kita tiru kasih sayang beliau kepada anak dan istrinya.
  • Dalam masyarakat, kita tiru kepedulian beliau kepada tetangga dan orang miskin.
  • Dalam pekerjaan, kita tiru kejujuran dan amanah beliau.
  • Dalam kepemimpinan, kita tiru keadilan beliau.

Jika semua umat Islam berusaha meneladani Nabi dalam kehidupan sehari-hari, maka masyarakat kita akan dipenuhi kejujuran, kasih sayang, dan persaudaraan. Inilah jalan untuk membangun bangsa yang bermartabat.

Semoga Allah menolong kita semua untuk benar-benar mengikuti sunnah Nabi, menegakkan tauhid, dan memperbaiki akhlak kita.