Tauhid
dan Akhlak: Solusi Abadi dari Zaman Jahiliyah hingga Era Modern
Dr.
H. Ahmad Abrar Rangkuti, M.A.
Khutbah
Jumat, 5 September 2025 M/12 Rabiul Awal 1447 H
Masjid
Istiqamah Pagar Merbau
Jamaah Jumat yang dimuliakan
Allah,
Pertama-tama marilah kita
syukuri nikmat Allah yang begitu besar, salah satunya adalah nikmat diutusnya
Nabi Muhammad ﷺ
sebagai rahmat bagi seluruh alam. Beberapa hari yang akan datang kita akan memperingati
kelahiran beliau, sebuah peristiwa yang menjadi titik balik sejarah umat
manusia.
Hadirin sekalian,
Sebelum
Nabi Muhammad ﷺ
lahir, bangsa Arab bukanlah bangsa yang terbelakang sepenuhnya. Mereka
sebenarnya sudah memiliki peradaban. Dalam bidang ekonomi, orang Arab
sangat pandai berdagang. Kafilah-kafilah dagang Quraisy rutin bepergian ke Syam
di musim panas dan ke Yaman di musim dingin. Barang-barang dagangan dari timur
dan barat bertemu di Makkah, sehingga kota itu menjadi pusat perdagangan
internasional.
Dalam bidang budaya,
mereka terkenal dengan syair-syair yang indah dan bahasa yang fasih. Puisi
mereka digantungkan di dinding Ka’bah sebagai bentuk penghargaan tertinggi.
Mereka bangga dengan kemampuan bahasa dan sastra.
Dalam bidang sosial-politik,
Makkah telah menjadi pusat pertemuan bangsa-bangsa. Orang Arab sangat
menghormati tamu, menjunjung tinggi keberanian, dan memiliki sistem kabilah
yang kokoh. Dengan kata lain, mereka memiliki unsur-unsur peradaban yang maju.
Namun, jamaah yang dirahmati
Allah, di balik semua itu tersembunyi kegelapan yang dalam. Akidah
mereka rusak karena menyembah ratusan berhala di sekitar Ka’bah. Praktik
kezaliman merajalela: orang kaya menindas orang miskin, para perempuan
dipandang hina, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Perbudakan terjadi
di mana-mana, tidak ada rasa keadilan, dan peperangan antarsuku berlangsung
tanpa henti hanya karena masalah sepele.
Maka, jelaslah bahwa mereka
memiliki peradaban lahiriah, tetapi kehilangan cahaya ruhani. Maju dalam
materi, tetapi runtuh dalam akhlak dan akidah. Inilah yang disebut zaman
jahiliyah.
Karena itulah, Allah ﷻ mengutus Nabi Muhammad ﷺ membawa misi yang sangat besar bagi umat
manusia. Misi ini bukan sekadar menyampaikan ajaran baru, tetapi juga
menawarkan solusi mendasar atas problematika yang melanda masyarakat kala itu.
Solusi pertama yang beliau bawa adalah tauhid. Dengan tauhid, beliau
mengajarkan bahwa hanya Allah ﷻ
yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tauhid menjadi fondasi utama
karena ia membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan—baik perbudakan
terhadap sesama manusia, terhadap hawa nafsu, maupun terhadap berhala yang
tidak berdaya. Inilah revolusi besar yang mengangkat martabat manusia agar
hidup merdeka dan terhormat di hadapan Allah ﷻ.
Namun, membangun peradaban
tidak cukup hanya dengan meluruskan keyakinan. Karena itu, Rasulullah ﷺ membawa solusi kedua, yaitu akhlak.
Beliau menegaskan dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Dengan akhlak, manusia
diarahkan agar memiliki perilaku yang baik, menghargai orang lain, dan hidup
berdampingan secara harmonis. Jika tauhid memperbaiki hubungan manusia dengan
Allah ﷻ, maka akhlak memperbaiki hubungan antar
sesama manusia. Kedua hal ini saling melengkapi: tauhid menata batin, akhlak
menata lahir; tauhid menjadi akar, akhlak menjadi buah.
Dengan demikian, jelas bahwa
ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang parsial atau
terpisah-pisah. Tauhid dan akhlak adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan
dalam membentuk pribadi muslim sejati.
Jamaah yang berbahagia,
Allah
sendiri menegaskan kemuliaan akhlak Nabi dalam firman-Nya:
﴿وَإِنَّكَ
لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾
(QS. Al-Qalam: 4).
Beliau adalah sosok yang jujur, amanah, penyayang, dan adil. Maka tidak heran,
dakwah beliau mampu mengubah bangsa Arab dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya
peradaban.
Jamaah yang berbahagia,
Jika
kita perhatikan, kondisi hari ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zaman
jahiliyah dulu, hanya berbeda wajahnya. Dulu orang jahiliyah menyembah berhala,
sekarang banyak manusia yang “menyembah” harta, jabatan, dan popularitas. Dulu
jahiliyah ditandai dengan perang antar suku, sekarang kita melihat pertikaian
dan perpecahan hanya karena beda pilihan politik atau perbedaan pendapat di
media sosial.
Kemajuan teknologi memang luar
biasa, tetapi di sisi lain kita menyaksikan krisis akhlak. Korupsi merajalela
di berbagai tingkatan. Kejujuran semakin mahal, bahkan kadang dianggap
kelemahan. Media sosial penuh dengan fitnah, ujaran kebencian, dan budaya saling
merendahkan. Banyak orang yang semakin jauh dari Allah: salat ditinggalkan,
zikir diabaikan, hidup sibuk mengejar dunia tanpa arah.
Inilah yang bisa kita sebut
sebagai “jahiliyah gaya baru”—jahiliyah modern yang tidak lagi berbentuk
patung-patung di Ka’bah, tetapi berupa hawa nafsu, keserakahan, dan penyakit
hati.
Oleh karena itu, solusi yang
dibawa Nabi Muhammad ﷺ
tetap relevan sepanjang zaman. Kembali kepada tauhid yang murni—menyembah Allah
semata, bukan dunia. Menghidupkan akhlak mulia—jujur, amanah, penyayang, dan
adil.
Bayangkan, jika setiap muslim
benar-benar berpegang pada kejujuran, tidak ada lagi praktik korupsi. Jika
setiap muslim amanah, tidak ada lagi pengkhianatan dan kecurangan. Jika setiap
muslim penyayang, tidak akan ada lagi kekerasan dalam rumah tangga, perundungan
di sekolah, atau kebencian di media sosial.
Maka masyarakat kita akan
kembali menjadi umat terbaik: umat yang dirindukan dunia, bukan ditakuti karena
keburukan akhlaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ،
وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ
“Celakalah hamba dinar,
celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian (kemewahan).”
(HR. Bukhari no. 2887)
- Kata ‘abd (hamba) biasanya
digunakan untuk Allah ﷻ, tetapi di sini digunakan untuk benda
duniawi seperti dinar (emas), dirham (perak), dan khamishah (pakaian
indah).
- Artinya, orang yang hatinya terikat pada
harta dan kemewahan hingga hidupnya dikendalikan oleh itu semua, maka ia
seperti menjadi “budak” harta.
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani
dalam Fath al-Bari menjelaskan:
“Maksudnya adalah orang yang
menjadikan dunia sebagai tujuannya, dan ia tidak puas kecuali dengan
memperolehnya. Seakan-akan ia menyembah dunia itu, karena ia rela, marah,
memberi, dan menolak semuanya demi dunia tersebut.”
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Inilah
makna sejati memperingati Maulid Nabi. Bukan sekadar mengenang kelahiran
beliau, tetapi meneladani ajarannya dalam kehidupan nyata. Semoga kita semua
mampu menjadikan Rasulullah ﷺ
sebagai teladan dalam ibadah, dalam keluarga, dalam pekerjaan, dan dalam
kehidupan bermasyarakat.
Marilah kita jadikan
peringatan Maulid Nabi ini sebagai momentum memperbaiki diri. Rasulullah ﷺ adalah suri teladan terbaik. Allah ﷻ berfirman:
﴿لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ﴾
(QS. Al-Ahzab: 21).
Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ
adalah teladan dalam perkataan, perbuatan, kesabaran, jihad, ibadah, dan akhlak
mulia. Setiap orang yang berharap bertemu Allah, takut akan azab-Nya, dan
mengingat-Nya, wajib menjadikan Rasulullah sebagai panutan.
Karena itu, meneladani Nabi
harus kita mulai dari hal-hal yang sederhana namun nyata.
- Dalam keluarga, kita tiru kasih sayang
beliau kepada anak dan istrinya.
- Dalam masyarakat, kita tiru kepedulian
beliau kepada tetangga dan orang miskin.
- Dalam pekerjaan, kita tiru kejujuran dan
amanah beliau.
- Dalam kepemimpinan, kita tiru keadilan
beliau.
Jika semua umat Islam berusaha
meneladani Nabi dalam kehidupan sehari-hari, maka masyarakat kita akan dipenuhi
kejujuran, kasih sayang, dan persaudaraan. Inilah jalan untuk membangun bangsa
yang bermartabat.
Semoga Allah ﷻ menolong kita semua untuk benar-benar
mengikuti sunnah Nabi, menegakkan tauhid, dan memperbaiki akhlak kita.